Pilih Bahasa

Jumat, 04 Januari 2013

MEMANEN PADI


Saat berpikir untuk menuliskan artikel ini sebenarnya terlintas untuk mengurungkan niat, tetapi entah dorongan apa sehingga akhirnya tetap berlanjut untuk mengungkap fakta yang benar-benar terjadi di kalangan masyarakat bawah ini. Fakta ini mengungkapkan bahwa korupsi di masyarakat Indonesia benar-benar telah mengakar termasuk sampai pada kelompok marjinal sekali pun yakni pada kelompok masyarakat petani buruh.

Sebelumnya perlu diceritakan terlebih dahulu bahwa dengan semakin banyaknya jumlah penduduk khususnya di pulau Jawa, maka lahan pertanian semakin menyusut baik karena terkikis untuk wilayah hunian maupun karena alasan lain. Sementara itu para pemilik tanah sawah banyak yang tergoda untuk melepas kepemilikannya mungkin karena alasan memenuhi kebutuhan lain atau karena sudah tidak ada lagi orang yang diserahi tanggung jawab menggarap sawah tersebut. Pada sisi lain jumlah rakyat miskin di pedesaan semakin bertambah dan keterbatasan pilihan pekerjaan memaksa sebagian mereka untuk bekerja sebagai petani buruh.


Tanaman padi di sawah siap panen.

Mereka memiliki pencaharian sebagai petani namun bukan pada tanah sawah mereka sendiri. Penghasilan mereka tergantung dari para pemilik sawah yang meminta mereka bekerja dengan sistem upah bayaran atau dengan model bagi hasil. Mengingat keterbatasan modal, maka lebih banyak lagi para petani buruh yang bekerja dengan sistem upah. Mereka tidak mampu untuk menyediakan modal apabila ingin sistem bagi hasil untuk penyediaan bibit dan tenaga mengolah tanah, terlebih lagi hasil yang diperoleh baru akan diterima saat panen tiba. Terlebih lagi saat ini panen padi pun tidak selalu berhasil atau memberikan hasil yang berlimpah karena seringkali ada musibah berupa pergantian musim yang tidak tentu atau karena serangan hama.

Para pemilik sawah kebanyakan menggarap sawah dengan model dikelola sendiri. Untuk pengolahan tanah dengan cara dibajak mereka dapat meminta petani buruh untuk mengolah dengan cangkul. Saat ini juga banyak yang melakukan pengolahan tanah dengan menggunakan traktor sewaan. Selanjutnya pemilik sawah menyediakan bibit dan pupuk sendiri. Petani buruh kembali melakukan tugas penyemaian bibit dan penanaman. Untuk perawatan terkadang pemilik melakukan sendiri misal tugas penyiangan dan pemupukan. Selanjutnya pada saat panen, pemiliki kembali meminta petani buruh untuk bertugas memanen hasil padinya. Bayaran yang diberikan pada petani buruh ini berupa uang harian tetapi juga ada yang diperhitungkan dari hasil padi yang diperoleh nanti pada saat panen.

Aktivitas pemanenan padi di sawah.



Pemanenan ini umumnya dilakukan secara berkelompok oleh beberapa orang. Kalau jaman dahulu pemanenan padi dilakukan dengan pemetikan tangkai padi menggunakan ani-ani. Saat ini sudah berbeda, batangan rumpun padi dipangkas dengan sabit dan kemudian dengan tangan rangkaian rumpun tadi dipukul-pukulkan ke wadah bambu. Wadah yang berupa meja dari bambu yang disusun renggang, memungkinkan biji padi rontok dari tangkainya dan terkumpul di alas di bagian bawah meja. Rumpun padi yang telah bersih ini selanjutnya dibuang untuk diambil oleh para peternak guna makanan sapi. Dalam kelompok ini tentu saja akan ada pembagian tugas meliputi orang yang memotong rumpun padi, ada yang merontokkan bulir-bulir padi serta mengumpulkan hasil rontokan.

Proses perontokan mestinya melepaskan butiran gabah dari tangkai padi semaksimal mungkin, sehingga rumpun jerami tidak menyisakan butiran padi pada tangkainya. Namun dalam prakteknya akan selalu menyisakan butiran gabah yang tidak terlepas saat dipukul-pukulkan ke meja perontok. Kalau jaman dahulu seringkali para peternak bebek menggembalakan ternak bebeknya ke lokasi panen padi untuk mencari ceceran butiran padi yang rontok. Saat ini pemanfaatan butiran padi yang tersisa ini selanjutnya menarik orang lain untuk mengumpulkan butiran itu secara manual. Mereka mengumpulkan butiran ini dengan jalan mencari sisa-sisa butiran gabah yang tertinggal. Kegiatan mengumpulkan sisa-sisa butiran inilah yang dikenal dengan istilah rinso kalau di daerah Banyumas. Istilah ini mungkin muncul terkait dengan merek suatu pembersih yang dikaitkan dengan kegiatan membersihkan sisa-sisa gabah. Kalau di tempat lain ada yang menyebut aktivitas tersebut dengan istilah yang lain.

Dalam perkembangannya seringkali orang-orang yang datang merinso ini adalah seringkali isteri atau kerabat orang yang melakukan panen dan perontokan padi ini. Dari sini kemudian berkembang ulah yang cenderung negatif yakni para perontok tidak melakukan semaksimal mungkin tetapi masih menyisakan butiran padi di rumpun yang dibuang. Hal ini tentu saja akan dimanfaatkan untuk diambil oleh para perinso di lokasi itu. Dengan demikian hasil butiran gabah hasil rinso ini akan bertambah banyak. Ulah seperti ini tentu saja menjadi kurang fair dan dapat dikatakan sebagai kegiatan korupsi tingkat kecil. Dari keluhan pemilik sawah kadang menyampaikan bahwa hasil dari para perinso ini sering tidak masuk akal karena dapat memperoleh butiran gabah yang cukup banyak.

Adanya praktek perinsoan ini tentu saja membuat pemilik sawah untuk memikirkan kembali cara memanen hasil sawah mereka. Panen padi kalau dilakukan dengan menggunakan ani-ani mungkin saat ini sudah bukan lagi jadi pilihan karena diperlukan tenaga yang banyak serta waktu lebih lama. Untuk pemanenan secara modern sebenarnya sangat dimungkinkan yakni dengan menggunakan traktor untuk memanen. Traktor ini bekerja dengan memotong tangkai padi dan secara otomatis akan merontokkan butiran padi di dalam ruangan traktor yang tersedia. Proses yang dilakukan pun bisa secara cepat sehingga luas sawah yang sangat besar dapat ditangani dengan cepat. Namun hal ini sepertinya kurang tepat kalau diterapkan di Indonesia. Pola mekanisasi dengan menggunakan traktor ini jelas bertentangan dengan sistem padat karya yang diperlukan untuk memberi lapangan kerja bagi petani buruh. Dengan demikian sistem panen dengan menggunakan petani buruh untuk memotong dan menggepyok rumpun padi masih menjadi pilihan terbaik.

Saat ini banyak pemilik sawah yang mungkin karena alasan sawah yang dimilikinya tidak terlalu besar maka mereka akan memanen sendiri dengan melibatkan anggota keluarga sendiri. Kalau sudah seperti ini tentu saja para petani buruh akan kehilangan kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan.

Keberatan para pemilik tanah dengan adanya praktek perinsoan ini mestinya dapat diatasi dengan upaya pemecahan yang win-win solution. Langkah yang jelas manusiawi adalah dengan menaikkan upah bagi tenaga pemanen atau jika dilakukan dengan sistem bagi hasil mungkin porsi pembagian agar ditambah sehingga mereka dapat memperoleh bagian lebih adil. Kesadaran dari pemilik sawah ini tentunya kemudian harus dibalas dengan perlakuan kerja memanen sebaik-baiknya dari para petani buruh ini. Bahkan jika perlu ada orang yang melakukan tugas tambahan untuk merinso tetapi hasil rinsoannya bukan untuk kepentingan sendiri tetapi digabungkan dengan hasil panenan tetap untuk pemilik sawah.

Saya kira dengan langkah seperti ini, para pemilik sawah akan ikhlas memberikan upah dan bagi hasil yang lebih besar bagi para petani buruh. Sementara para petani buruh dan keluarganya tetap akan mendapatkan rejeki yang halal dan barokah.

Sebagai penutup memang saya akui bahwa tulisan ini relatif hanya teori dan mungkin akan ada orang yang menyebut saya hanya omdo alias omong doang. Komentar seperti korupsi yang besar-besaran tidak pernah diungkit-ungkit tetapi korupsi oleh rakyat kecil seperti petani buruh yang merinso ini malah dibesar-besarkan. Hal ini memang tetap perlu diungkapkan walaupun pahit karena budaya seperti ini sudah tidak benar dan bahkan cenderung dapat meluas menjadi penyakit sosial yang parah.

Semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi renungan kita bersama untuk mencapi kesejahteraan bersama.

Makalah Pertanian Tentang Padi Sawah



  PADI SAWAH



Padi (oryza sativa) adalah bahan baku pangan pokok yang vital bagi rakyat Indonesia. Menanam padi sawah sudah mendarah daging bagi sebagian besar petani di Indonesia. Mulanya kegiatan ini banyak diusahakan di pulau Jawa. Namun, saat ini hampir seluruh daerah di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kegiatan menanam padi di sawah.
Sistem penanaman padi di sawah biasanya didahului oleh pengolahan tanah secara sempurna seraya petani melakukan persemaian. Mula-mula sawah dibajak, pembajakan dapat dilakukan dengan mesin, kerbau atau melalui pencangkulan oleh manusia. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 2-3 hari. Namun di beberapa tempat, tanah dapat dibiarkan sampai 15 hari. Selanjutnya tanah dilumpurkan dengan cara dibajak lagi untuk kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya 3-5 hari menjelang tanam. Setelah itu bibit hasil semaian ditanam dengan cara pengolahan sawah seperti di atas (yang sering disebut pengolahan tanah sempurna, intensif atau konvensional) banyak kelemahan yang timbul penggunaan air di sawah amatlah boros. Padahal ketersediaan air semakin terbatas. Selain itu pembajakan dan pelumpuran tanah yang biasa dilakukan oleh petani ternyata menyebabkan banyak butir-butir tanah halus dan unsur hara terbawa air irigasi. Hal ini kurang baik dari segi konservasi lingkungan.
Padi merupakan tanaman yang membutuhkan air cukup banyak untuk hidupnya. Memang tanaman ini tergolong semi aquatis yang cocok ditanam di lokasi tergenang. Biasanya padi ditanam di sawah yang menyediakan kebutuhan air cukup untuk pertumbuhannya. Meskipun demikian, padi juga dapat diusahakan di lahan kering atau ladang. Istilahnya adalah padi gogo. Namun kebutuhan airnya harus terpenuhi. Oleh karena itu ada beberapa sistem budidaya yang dikenal di Indonesia, di antaranya

1. Bertanam padi di sawah tadah hujan
Dalam mengusahakan padi di sawah, soal yang terpenting adalah bidang tanah yang ditanami harus dapat:
- Menanam air sehingga tanah itu dapat digenangi air.
- Mudah memperoleh dan melepaskan air.
Pematang atau galengan memegang peranan yang sangat penting, karena dalam sistem bertanam padi di sawah tadah hujan ini, pematang atau galengan ini harus kuat dan dirawat, karena bertanam padi di sawah tadah hujan memerlukan air, sehingga dengan galengan-galengan sawah ini air dapat bertanam di petakan sawah. Dan padi dengan sistem penanaman tadah hujan ini tidak dapat ditanam pada tanah yang datar.
Penggarapan bertanam padi di sawah tadah hujan ini digarap secara “basahan” yaitu menunggu sampai musim hujan tiba dan dalam proses penanaman padi ini memakai bibit persemaian. Tetapi seringkali bibit sudah terlalu tua baru dapat ditanam karena jatuhnya hujan terlambat. Dalam penanaman padi sawah tadah hujan ini untuk menanam dan selama hidupnya membutuhkan air hujan cukup. Hal ini membawa resiko yang besar sekali karena musim hujan kadang datang terlambat, sementara padi sawah tadah hujan membutuhkan air hujan yang cukup. Maka seringkali terjadi puluhan ribu hektar tidak menghasilkan sama sekali atau hasilnya rendah akibat air hujan yang tidak mencukupi.
2. Bertanam Padi Gogo Rancah (lahan kering)
Dalam mengusahakan padi di lahan kering atau ladang atau biasa disebut padi gogo ini, relatif lebih mudah dibandingkan dengan padi sawah tadah hujan. Dalam sistem penggarapan padi di lahan kering atau ladang ini biasa dikerjakan sebelum musim penghujan tiba. Sementara dalam proses pembibitan atau penanamannya, padi gogo rancah ini tidak memerlukan persemaian, sehingga benih dapat langsung ditanam di sawah sebelum atau pada permulaan musim hujan sehingga tidak ada resiko bibit menjadi terlalu tua.
Padi gogo rancah ini tidak banyak memerlukan air hujan, pada permulaan selama 30 atau 40 hari. Hidup padi ini keringan bahkan bila kebanyakan air hujan, maka air tersebut harus dibuang. Sesudah itu bilamana air hujan cukup, maka padi gogo rancah ini dapat dijadikan padi sawah biasa. Tetapi kalau tidak ada hujan, dapat hidup kekeringan, maka resiko mati sangat kecil.
3. Bertanam Padi Sawah Tanpa Olah Tanah (TOT)
Meskipun disebut bertanam padi sawah ini tanpa olah tanah tetapi tidak berarti bahwa tak ada persiapan sama sekali. Sistem ini masih merupakan bagian pengolahan tanah konservasi yang melibatkan perbedaan mendasar dengan penanaman padi biasa. Pembajakan dan pencangkulan di dalam sistem TOT ini tidak ada dan dalam sistem TOT ini dilakukan penyemprotan herbisida terhadap sisa tanaman padi (singgang) atau gulma yang tumbuh.
Secara umum kegiatan bertanam padi sawah tanpa olah tanah ini dapat diartikan sebagai penanaman padi di lahan sawah yang persiapan lahannya tanpa pengolahan tanah dan pelumpuran, tetapi cukup dengan bantuan herbisida dalam mengendalikan gulma dan singgangnya. Tanaman padi ini dapat tumbuh seperti pada lahan yang diolah biasa. Hal ini disebabkan karena singgang dan gulma yang membusuk akan melonggarkan tanah sehingga akar padi dapat berkembang dengan mudah dan tanaman padi dapat tumbuh seperti biasa. Bibit padi dari persemaian dapat langsung ditanam pada tanah tanpa olah yang sudah lunak karena digenang terlebih dahulu. Dapat juga benih ditebarkan langsung (tabela) atau ditabur dalam air yang sudah disediakan.
Keuntungan menanam padi dengan sistem Tanpa Olah Tanam (TOT).
a. Kualitas pertumbuhan tanaman dan hasil panen tidak berbeda dengan penanaman padi biasa.
b. Menghemat biaya persiapan lahan 40% yang juga mengurangi biaya produksi.
c. Menghemat waktu musim tanam sampai 1 bulan, artinya jumlah penanaman dalam satu tahun air ditingkatkan.
d. Mengurangi pemakaian air lebih dari 20%
e. Mempermudah kemungkinan penanaman secara serempak sehingga konsep pengendalian hama terpadu (PHT) padi sawah dapat diterapkan dan baik.
f. Melestarikan kesuburan tanah, mengurani pencucian unsur hara dan jumlah sendimen terangkut.
g. Mengurangi pencemaran perairan dan pendangkalan saluran air atau sungai.
h. Mengurangi emisi metan sampai 40%.
i. Memungkinkan peningkatan luas sawah garapan.
j. Memberikan keuntungan bagi petani yang berarti membantu meningkatkan kualitas hidupnya.
Kendala-kendala yang Dihadapi dalam Bertanam Padi
1. Air
Air diperlukan untuk pengolahan dan dalam penanaman padi di sawah adakalanya perlu pengaturan air secara baik. Saat tertentu air dimasukkan, tetapi saat lainnya air justru perlu ditambah. Pengaliran air secara terus menerus dari satu petakan ke petakan lain atau penggenangan dalam petakan sawah secara terus-menerus selain boros air juga berakibat kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman. Tetapi sebaliknya itu pengairan terlalu sedikit biasanya gulma akan tumbuh pesat dan produksi padi akan berkurang dan pemasukan air sangat penting pada masa-masa berikut:
a. Awal tanam
Seperti yang sudah dilakukan pada saat penanaman, air diberikan setinggi 2-5 cm dan permukaan tanah.

b. Pembentukan anakan (pertunasan)
Dalam masa ini air dipertahankan setinggi 3-5 cm pemberian air lebih dari 5 cm dapat menghambat pembenihan anakan (tunas)
c. Pembentukan tunas bulir (primordia) atau tanaman padi bunling
Air sangat dibutuhkan pada pembentukan calon. Calon bulir ini air dimasukkan setinggi 10 cm. Kekurangan air pada saat pembentukan akan mengakibatkan pembentukan anak (tunas) karena kekurangan air dapat menghambat pembentukan malai, pembuahan dan pembuangan yang dapat berakibat fatal yakni bulir padi yang dihasilkan hampa.
d. Pembungaan
Pada masa ini kebutuhan air mencapai puncaknya. Muka air dijaga setinggi 5-10 cm akibat kekurangan air juga dapat menyebabkan hampanya bulir padi tetapi bila tanaman padi telah mengeluarkan bunga, petakan untuk beberapa saat perlu dikeringkan agar terjadi pembungaan yang serempak.
Air yang diberikan dalam jumlah cukup sebenarnya bermanfaat juga untuk mencegah pertumbuhan gulma, menghalau wereng yang bersembunyi di batang padi sehingga lebih mudah disemprot dengan pestisida, serta mengurangi serangan tikus-tikus.
2. Pengeluaran air
Ada saat-saat tanaman padi tak perlu diberikan air, untuk itu petakan sawah dikeringkan pada waktu-waktu berikut:
a. Sebelum tanaman bunting
Gunanya untuk mencegah anakan tanaman tidak mengeluarkan bulir.
b. Awal pembungaan
Gunanya untuk membuat tanaman berbunga serempak.
c. Awal pemasakan biji
Air perlu dikeringkan saat ini untuk menyeragamkan dan mempercepat pematangan padi.
Tindakan pengeringan ini juga bermanfaat untuk memperbaiki aerosi tanah, memacu pertumbuhan anakan merangsang pembuangan dan mengurangi terjadinya serangan busuk akar.
3. Pemupukan
Pada penanaman padi di sawah, dosis pemupukan pada sawah tergantung pada jenis tanah, sejarah pemupukan dan varietas padi yang ditanam pada lokasi tersebut. Tetapi kendala pemupukan biasanya dialami petani karena petani biasanya pupuk diberikan pada dosis yang tidak sesuai. Pupuk diberikan 2 atau 3 kali selama musim tanam. Pupuk adalah bahan yang mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dan unsur yang paling penting dan harus tersedia adalah unsur N.P.K. Dosis pemupukan urea biasanya diberikan sepertiga bagian pada pemupukan pertama dan kedua pertiga bagian pada pemupukan kedua. Pupuk TSP dab KC biasanya diberikan sekaligus bersamaan dengan pemupukan urea pertama.
Sewaktu melakukan pemupukan sebaiknya saluran pemasukan dan pembuangan air ditutup terlebih dahulu. Petakan sawah berada dalam kondisi berair, pupuk disebar merata pada permukaan tahan. Hati-hati sewaktu menyebar pupuk agar tidak mengenai daun tanaman karena dapat mengakibatkan daun terbakar.
4. Pengendalian hama dan penyakit
Hama penyakit padi sawah biasanya rentan terhadap serangan hama dan penyakit di dalam tanaman padi sawah ada beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman padi dan hama yang cukup mengganggu antara lain walang sangit, ganjur, penggerek padi, wereng, tikus dan burung. Adapun penyakit yang sering menyerang tanaman padi adalah hawar daun, bercak bakteri, hawar pelepah, busuk batang, bercak cokelat, blasi, tungro, kerdil hampa dan kerdil rumput.
Dahulu petani sering melakukan tindakan gampang untuk memberantas hama dan penyakit yaitu dengan penyemprotan pestisida. Namun cara ini tidak dianjurkan karena pestisida dapat mencemari air irigasi atau sumber air di sekitarnya dan banyak jensi hama dan penyakit yang rentan atau tak mempan lagi disemprot.
Pengendalian hama dan penyakit (PHT) merupakan sistem pengelolaan populasi hama dengan menggunakan seluruh teknik yang cocok dalam suatu cara yang terpadu untuk mengurangi populasi hama dan penyakit serta mempertahankannya pada tingkat di bawah jumlah yang dapat menimbulkan kerugian.
5. Panen
Bagi petani panen padi merupakan soal yang paling dinanti-nanti. Panen merupakan saat petani merasakan keberhasilan dari jerih payah menanam dan merawat tanaman.
a. Saat panen
Padi perlu dipanen pada saat yang tepat untuk mencegah kemungkinan mendapatkan gabah berkualitas rendah yang masih banyak mengandung butir hijau dan butir kapur. Padi yang dipanen mudah jika digiling akan menghasilkan beras pecah. Saat panen padi dapat dipengaruhi oleh musim tanam. Pemeliharaan tanaman dan pertumbuhan, serta tergantung pula pada jenisnya. Secara umum padi dipanen saat berumur 80-110 hari apabila tanaman padi menunjukkan ciri-ciri berikut berarti tanaman sudah siap dipanen:
- Bulir-bulir padi dan daun bendera sudah menguning.
- Tangkai menunduk karena sarat menanggung butir-butir padi atau gabah yang bertambah berat.
- Butir padi bila ditekan terasa keras dan berisi, jiak dikupas tidak berwarna kehijauan atau putih agak lembek seperti kapur.

b. Cara panen
Alat panen yang tepat penting agar panen menjadi mudah dilakukan biasanya padi dipanen dengan ani-ani atau sabit.
Ani-ani umumnya digunakan untuk memanen jenis padi yang sulit rontok sehingga dipanen beserta tangkainya, contohnya jenis padi bulu. Namun, alat ini tidak cocok digunakan untuk penanaman padi sawah.
Sabit digunakan untuk memanen padi yang mudah rontok, misalnya padi coreh. Namun, karena alat ini dapat memungut hasil lebih cepat serta lebih gampang memotong batang padi maka alat ini kini lebih banyak digunakan untuk panen.
c. Perontokan
Perontokan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin perintih tresher, atau menggunakan perontok kaki pedal tresher. Selain itu perontokkan secara sederhana dapat dilakukan dengan memukulkan batangan padi ke kayu atau “kotak gebuk” dimana sebelumnya dihamparkan plastik untuk menampung butir padi yang berhamburan.
d. Pengeringan
Tujuan utama pengeringan ialah untuk menurunkan kadar air gabah dapat tahan lama disimpan. Selain itu gabah yang masih basah sulit diproses menjadi beras dengan baik.
Bulir- bulir gabah daapt dijemur dengan cara dihamparkan di atas lantai semen yang bersih dapat pula dihamparkan di atas plastik. Dalam cuaca panas, sinar matahari mampu mengeringkan gabah dalam waktu 2-3 hari.
e. Pemisahan kulit gabah
Tahap terakhir usaha bertanam padi ialah menghasilkan beras yang dapat ditanak menjadi nasi sebagai makanan pokok.
Mula-mula gabah yang sudah dikeringkan perlu dipisahkan dengan gabah hampa atau kotoran yang mungkin terbawa selama perontokan atau pengeringan, caranya dapat dengan ditampi.
Pemisahan kulit gabah dapat dilakukan dengan huller atau mesin, cara ini praktis dan cepat. Namun untuk daerah yang tidak memiliki huller, pemisahan dapat dilakukan dengan penumbuhan padi menggunakan alu dan lumpang.
6. Sentra Produksi
Pada tanaman padi sawah ini sangat luas daerah sentra produksinya diantaranya di daerah Jawa dan Sumatera. Hal ini karena padi adalah bahan dasar untuk beras dan nasi yang merupakan bahan makanan utama masyarakat Indonesia yang mengandung karbohidrat tinggi walaupun tidak semua daerah makanan pokoknya berupa beras atau nasi.